assassin's creed

Assassin’s Creed (2016)

Assassin’s Creed adalah serial video game sukses produksi UBISOFT yang rilis pertama kali pada tahun 2007. Dengan pengembangan cerita dan seiring kemajuan industri video game, sampai dengan saat ini UBISOFT telah mengeluarkan 9 seri Assassin’s Creed. Sebagai sebuah serial video game yang sukses, hanya menunggu waktu saja hingga Assassin’s Creed diadaptasi ke layar lebar. Adalah sutradara Justin Kurzel (Macbeth, The Snowtown Murder) yang kemudian ditunjuk untuk menangani film ini. Keterlibatannya dengan Michael Fassbender (Macbeth, Hunger) sebagai tokoh protagonis dan Marion Cotillard (Allied, Macbeth)  sebagai artis pendukung mengulang kerjasama sebelumnya dalam film puitis Macbeth (2015).

Dengan skenario yang ditulis oleh Michael Leslie (Macbeth) dan  Adam Cooper (Exodus, Tower Heist),  Assassin’s Creed (2016) mengambil cerita yang sedikit berbeda dengan versi video gamenya meskipun tetap berporos pada permusuhan antara Assassin dan Ksatria Templar dalam memperebutkan Apple of Eden, sebuah pusaka untuk menguasai kehidupan manusia.

Cal Lynch (Michael Fassbender) adalah seorang berdarah Assassin yang mempunyai masa kecil kelam, ibunya dibunuh oleh ayahnya, Joseph Lynch. Cal Lynch tumbuh sebagai kriminal dan menghadapi hukuman mati. Sebuah perusahaan Templar modern bernama Abstergo yang dipimpin oleh Rikkin (Jeremy Irons) menyelamatkan Cal Lynch dari hukuman mati. Cal Lynch kemudian dimanfaatkan putri Rikkin, Sofia (Marion Cotillard) untuk mencari Apple of Edden. Sebuah alat ciptaan Sofia bernama Animus mampu membawa Cal Lynch kedalam dunia memori leluhurnya, seorang Assassins bernama Aguilar de Nerha. Cal Lynch sebagai Aguilar de Nerha bertempur dan berpetualang menghadapi para ksatria Templar mencari Apple of Eden.

Seperti halnya film adaptasi video game sebelumnya, Assassin’s Creed (2016)  menghadapi tantangan untuk sebisa mungkin mengakomodasi keinginan para gamers dan penikmat film diluar pecinta video gamenya. Bagi anda yang belum pernah memainkan video gamenya mungkin diawal mengalami kebingungan. Namun jangan kuatir, jalan cerita versi film yang ditulis berbeda dengan versi gamenya. Hal ini sepertinya bertujuan agar Assassin’s Creed (2016) bercerita dari awal dan mengembangkan cerita yang lain namun tetap mempertahankan ide dasar dari versi video gamenya. Proses regresi dari dunia nyata ke dunia pikiran pun diceritakan dengan jelas termasuk alasan kenapa Cal Lynch yang terpilih untuk menjalani regresi tersebut.

Film ini seru dan kencang sejak awal. Tentunya bukan Assassin’s Creed jika tidak menghadirkan aksi spektakuler dengan kemampuan melompat dan setengah terbang dari para Assassin. Lihat saja adegan kejar-kejaran antara pasukan Templar dengan Aguilar, adegan-adegan akrobatik dan aksi ketinggian di atas gedung-gedung klasik Andalusia adalah sajian live action yang memikat. Kalau ada yang kurang adalah kurang banyaknya aksi-aksi parkour ini ditampilkan. We want more.

Assassin’s Creed (2016) berhasil menghadirkan ide brilian dari gamenya tentang regresi alam nyata ke alam memori bersetting indahnya Spanyol abad ke 15 dengan CGI yang bagus, kostum dan penampilan karakter juga sebagus dan sedetail versi gamenya. Namun patut disayangkan semua keriuhan sepanjang film menjadi antiklimaks ketika hanya berujung pada keberhasilan merebut Apple of Eden begitu saja. Meskipun bagus secara visual dan lebih bising dari versi gamenya namun tidak demikian konflik yang dibangun dengan jalan ceritanya yang dangkal. Anggap saja ini sebuah perkenalan untuk film pembuka untuk seri-seri Assassin’s Creed selanjutnya, jadi wajarlah jika hanya sekedar aman dan tidak terlalu berkesan.

Assassin's Creed (2016) on IMDb

Tinggalkan Balasan