ex machina

Ex Machina (2015)

Menurut Rene Descartes kemuliaan manusia adalah pikiran dan jiwa yang dimilikinya. Hal itu pulalah yang menjadikan manusia lain dengan mesin. Semua yang hidup namun tanpa pikiran dan jiwa hanyalah menjadi sebuah mesin yang rumit. Sejak manusia menemukan kecerdasan komputer untuk memudahkan kehidupan saat itu pulalah muncul fantasi tentang menanamkan sebuah kecerdasan buatan tercanggih sehingga sebuah mesin mampu berperilaku sebagai manusia. Tema ini pulalah yang kemudian juga banyak digunakan Hollywood sebagai inspirasi dalam film. Ex Machina (2015) adalah sebuah film yang sekali lagi mengangkat tema kecerdasan buatan/artificial intelligence dan memanusiakan sebuah robot.

Caleb (Domhnall Gleeson), seorang programer cerdas memenangkan sebuah kompetisi yang diadakan CEO perusahaan teknologi yang ambisius, Nathan (Oscar Isaac). Sebagai hadiah dari kompetisi tersebut adalah Caleb menjadi bagian dari riset yang dilakukan oleh Nathan. Caleb direkrut untuk berinteraksi dengan Ava (Alicia Vikander), sebuah droid yang sudah dibenamkan kecerdasan buatan didalamnya. Caleb harus menguji apakah Ava bisa mempunyai cara berpikir dan beremosi layaknya manusia. Hal yang tak disangka oleh Caleb adalah dalam waktu 7 hari ia berinteraksi dengan Ava, Caleb justru terikat secara emosional dengan Ava. Caleb juga kemudian mengetahui rahasia dan segala macam rencana Nathan yang tidak ia duga sebelumnya.

Film ini hampir sebagian besar dihabiskan di dalam rumah Nathan yang sekaligus adalah tempat riset rahasia untuk pengembangan rencana ambisiusnya. Sebuah gedung yang terisolir di tengah alam terbuka yang indah. Oscar Isaac (A Most Violent Year, Drive) memerankan sosok Nathan yang egois dan ambisius dengan pas. Nathan adalah profil yang berkualitas namun berbahaya. Ia adalah pecinta seni dan filosofi sekaligus genius dan penguasa teknologi. Sementara Caleb yang diperankan oleh Domhnall Gleeson (Unbroken, About Time) adalah seorang nerd yang baik dan pengagum Nathan. Kepolosan dan kekagumannya menjadikan Caleb terintimidasi bahkan sejak awal dia menginjakan kaki di markas Nathan. Perasaan inferior itu pulalah yang membuat Caleb senantiasa waspada dan penasaran. Bahkan saya pun sebagai penonton seolah turut merasakan untuk waspada dan penasaran seperti halnya Caleb.

Ex Machina (2015) memang tak segamblang A.I. Artificial Intelligence (2001) karya Steven Spielberg yang begitu runut mentransformasi sebuah robot menjadi manusia bernama David (Haley Joel Osment). Di Ex Machina (2015) anda bertemu Alicia Vikander (Seventh Son, Testament of Youth) sebagai robot cantik bermata sedih yang sudah mendekati sempurna. Alicia Vikander dengan muka tanpa ekspresi dan hanya sekali mengedipkan mata sepanjang film berakting bagus memerankan Ava. Ava yang kesepian dan membuat Caleb bersimpati. Caleb yang menghadapi dilema memperlakukan Ava sebagai mesin atau sebaliknya sebagai sebuah pribadi. Hal ini yang kemudian rentan menjadi sebuah keputusan yang salah bagi Caleb.

Segala fantasi dalam otak manusia adalah sebuah cita-cita. Suatu cita-cita ketika diupayakan dengan segenap kemampuan hanyalah tinggal menunggu waktu untuk menjadi nyata dan terwujud. Seperti juga fantasi untuk menciptakan robot secerdas manusia hanyalah tinggal menunggu waktu untuk dapat diwujudkan. Dalam Ex Machina (2015) keinginan tersebut kemudian melanggar batas ketika seseorang kemudian berperan sebagai dewa dan menciptakan seorang hamba. Orang ini kemudian lupa bahwa bagaimanapun manusia tak layak bermain sebagai Tuhan. Alih-alih tunduk, mesin cerdas itu kemudian bertindak sesuai pilihannya sendiri.

Ex Machina (2015) on IMDb

Tinggalkan Balasan