life

Life (2017)

Sebagai planet yang terdekat dengan bumi dan diperkirakan memiliki keadaan yang memungkinkan bagi sebuah organisme untuk hidup, Mars tentulah planet yang mengundang penasaran manusia bahwa ada kehidupan lain selain di Bumi. Kendati belum ada proyek yang memungkinkan bagi manusia untuk mendarat hingga saat ini namun setidaknya wahana tanpa awak milik Nasa telah berhasil mendarat di Mars. Dimulai dengan wahana Sojourner pada tahun 1997 hingga saat ini bahkan robot-robot milik NASA sudah berjalan-jalan di permukaan Mars untuk kegiatan penelitian.

Seiring perkembangan teknologi mungkin saja di masa depan manusia mampu menjejakan kaki dan mendiami Mars seperti dalam The Martian (2015). Namun saat ini mungkin hanya sebatas gambar dan sampel yang bisa diambil dari Mars untuk penelitian sambil memperhitungkan resikonya. Karena berbanding lurus dengan keingintahuan kita, kekuatiran bahwa kehidupan lain akan mengancam kehidupan bumi adalah sama besarnya. Bahkan sebelum hal itu terwujud, Life (2017) terlebih dahulu mengingatkan kita betapa berbahayanya mengusik kehidupan di planet lain.

Life (2017) adalah sebuah film yang menceritakan tentang enam orang astronot yang mengadakan penelitian terhadap sampel tanah yang diambil dari Mars. Sampel tanah yang mengandung organisme hidup tersebut diteliti di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) sebelum dibawa ke bumi. Dengan berbagai kombinasi simulasi atmosfir di laboratorium, organisme yang kemudian dinamakan Calvin tersebut menunjukan kehidupan dan mampu merespon interaksi yang diberikan. Satu hal yang kemudian tak diduga oleh awak ISS, organisme tersebut berkembang dan mencari inang untuk memperbesar diri. Objek penelitian yang awalnya dengan antusias diteliti sebagai simbol kehidupan baru kemudian berubah menjadi ancaman kematian bagi para awak ISS.

Sebelum menonton Life (2017) saya terlebih dahulu tertarik dengan jajaran cast film ini. Jake Gyllenhaal (Nocturnal Animal, Nightcrawler) dan Ryan Reynolds (Deadpool, Selfless) bersama dalam sebuah film. Bercerita tentang kehidupan ruang angkasa yang notabene belum pernah dilakoni oleh Jake Gyllenhaal, tentulah ini bukan film sembarangan. Mengingat hampir semua film Jake Gyllenhaal adalah film yang bagus menurut saya. Sementara Ryan Reynolds dalam puncak ketenarannya saat ini. Kolaborasi keduanya turut mempengaruhi kelas dari film ini.  Sementara pemeran lainnya seperti Rebecca Ferguson (The Girl on the Train, Florence Foster Jenkins), Ariyon Bakare (Rogue One) dan Hiroyuki Sanada (The Wolverine, 47 Ronin) pun tampil bagus. Akting mereka sukses membawa kita dalam suasana tegang, sedih sekaligus menderita selama kurang lebih 1 jam 43 menit di dalam lambung ISS yang sempit dan mematikan.

Dengan premis alien yang meneror stasiun ruang angkasa, film ini sebenarnya tidak memberikan jalan cerita dan kejutan yang baru. Setidaknya kita pernah melihat film serupa ataupun mungkin saja film ini terinspirasi dari film horor luar angkasa sebelumnya semisal Alien (1979). Survival dalam sebuah lambung pesawat ruang angkasa pun bukan pertama kali kita temui. Ketegangan dalam ruang sempit nihil gravitasi dibawah ancaman mahluk mematikan bisa saja terpeleset membosankan. Namun ternyata sutradara Daniel Espinosa (Child 44, Safe House) berhasil mengarahkan film ini kepada tujuannya yaitu ketegangan dan kekagetan. Elemen kejutan dan jumpscare yang mudah ditebak berhasil diimbangi dengan visual dan score yang menurut saya cukup bagus. Menariknya, Calvin si alien bukanlah sosok yang menyeramkan. Calvin serupa bintang laut yang imut pada awalnya namun kemudian dengan kecerdasannya menghabisi satu persatu awak pesawat, pelan tapi pasti.

Life (2017) tidak banyak berfilosofi ataupun menyajikan perdebatan teknologi meskipun berlatar belakang fiksi science. Horor luar angkasa ini ringan namun bukan berarti remeh. Film ini layak anda tonton, meskipun selera saya sebenarnya lebih suka untuk bilang ‘seharusnya anda tonton’.

Life (2017) on IMDb

2 tanggapan untuk “Life (2017)

Tinggalkan Balasan