the salesman

The Salesman (2016)

Saya menyukai karya-karya sutradara Asghar Farhadi sebelumnya semisal : About Elly (2009), A Separation (2011) ataupun The Past (2013), maka saya tentunya tak akan melewatkan film terbaru sutradara Iran ini. Tanpa melihat reputasi Asghar Farhadi yang sudah diakui oleh berbagai festival dan penghargaan, film terbarunya The Salesman (2016) adalah sesuatu yang sangat saya nantikan setelah melihat karya-karya sebelumnya.

The Salesman bercerita tentang seorang guru seni bernama Emad (Shahab Hosseini) yang juga berprofesi sebagai aktor panggung bersama istrinya, Rana (Taraneh Alidoosti). Mereka bermaksud mencari tempat tinggal baru setelah apartemen mereka semula hampir runtuh dan tak bisa ditempati lagi. Teman sesama seniman Babak (Babak Karimi) menawari mereka sebuah apartemen yang baru saja ditinggalkan oleh pemiliknya. Permasalahan mulai timbul ketika mereka mulai menempati apartemen baru namun barang-barang milik penghuni lama masih tertinggal disana. Tidak hanya meninggalkan barang-barang, penghuni lama misterius tersebut juga meninggalkan masa lalu yang mengakibatkan Rana terluka dan hampir terbunuh. Emad pun berupaya mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dan siapa orang yang telah melukai istrinya dengan keji. Sementara istrinya setelah kejadian tersebut memilih diam dan mengakibatkan kerenggangan hubungan pasangan suami istri tersebut.

Saya sedikit bertanya-tanya, judul yang diambil oleh Asghar Farhadi yaitu The Salesman. Walaupun mengacu pada peran yang ditampilkan oleh Emad dalam lakon panggungnya The Death of  Salesman namun karakter Salesman di panggung dengan kejadian yang dialami oleh Emad di kehidupan nyata tidak mempunyai benang merah yang jelas. Kecuali mungkin memang karakter keduanya saling mempengaruhi, Emad jadi temperamen di panggung akibat permasalahan pribadinya ataupun malah justru sebaliknya.

The Salesman ini berawal dari permasalahan sederhana tentang penghuni lama yang misterius kemudian melahirkan beberapa masalah yang lebih kompleks. Melalui narasi dengan dialog yang ramai tanpa score serta kamera yang dinamis bergerak mengikuti Emad dan Rana kita dibawa kepada rasa penasaran dan praduga. Siapa pelaku, motif apa yang melatarbelakangi dan kenapa Rana yang secara psikologis menderita kemudian malah memilih untuk menutup mulut? Semuanya dijalin menjadi pertanyaan yang membuat kita antusias mengikuti alurnya.

Asghar Farhadi adalah seorang sineas yang konsisten dalam karyanya. Konsisten dalam cara bertutur, dengan permasalahan yang tak muluk-muluk, konflik antar manusia dalam kehidupan sehari-hari khususnya kehidupan rumah tangga, jalan cerita yang lebih menitikberatkan dialog ketimbang visualitas (semua filmnya cenderung cerewet), hingga ending khas yaitu akhir yang meninggalkan kita dengan kesimpulan kita masing-masing. Seolah memang masalah kehidupan ini tak pernah benar-benar selesai. Ini hanya sebuah chapter sebelum nanti muncul masalah dalam film Asghar Farhadi berikutnya.

Soal konsisten ini mungkin juga termasuk pemilihan aktor dan aktris pendukung filmnya. Saya kurang tahu apakah memang tidak banyak aktor di Iran, namun sepertinya Asghar Farhadi lebih percaya kepada beberapa aktor dan aktris yang pernah bekerjasama dengannya. Itulah kenapa saya merasa tak asing  dengan penampilan Taraneh Alidoosti (Firework Yesterday, About Elly) dan Shahab Hoseini (About Elly, A Separation) di film ini.

Bagi saya, Asghar Farhadi terlepas dari dia selalu menampilkan kehidupan keseharian masyarakat Iran yang jarang kita tahu, ia seolah sudah menciptakan sebuah genre tersendiri. Jika saya boleh menyebutnya genre Asghar Farhadi. Film karya Asghar Farhadi ya seperti ini.  Seperti The Salesman (2017), sebuah film Iran yang narasinya kuat. Nuansanya memang sederhana namun membuat kita merasa asyik menikmati hingga akhir.

The Salesman (2016) on IMDb

Tinggalkan Balasan